Entri Populer

Sabtu, 10 Maret 2012

Tatacara Shalat Rasulullah saw. Tulisan Versi Arabic & Latin


×êb ûnÆC Û|Öb ûnÆCÓC ×sL
øçøÕüÝ÷¾÷Ü ë÷©ürøÝüÆC ùõC÷Ý÷Ç÷¡ÆC÷Ü ùOC÷ÜÌû÷¡ÆCë÷Ç÷± üÝø®ù»÷f
(238:½)............................................÷ÛüêùQùÚ÷¾ øÓC
Khafidhu ‘alaash-shalawati wash-shalawatil wusthaa waqaumullahu qanitiina (Q : 238)
Artinya : Peliharalah shalat (mu) dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah karana Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu”; ( QS. Al_Baqarah : 238)

Begitulah sentralnya kedudukan shalat dalam Islam, hingga pada detik-detik menjelang hembusan nafasnya yang terakhir, Rasulullah SAW berpesan:
øõÌû÷¡Æ÷C ,øõ÷Ì÷û¡Æ÷C  
(tÙEÛ± çXDÕÛLEÜ ëDZ۱ iÜCiÝLE äCÜm)
Ash-shalatu, ash-shalatu ( HR-Abu Daud dan Ibnu Majah).

Artinya: “Jagalah shalat(mu) Jagalah shalat(mu) : “, (HR. Abu daud dan Ibnu Majah)

Bahwa amalan putra-putri Adam yang paling pertama di evaluasi adalah shalat. Sabda Rasulullah SAW:
×êb ûnÆC Û|Öb ûnÆCÓC ×sL
,øõ÷Ì÷û¡ÆC ùö÷ÕD÷êù¿üÆC ÷ÔüÝ÷é øjüM÷²üÆC ùçüê÷Ç÷± ÷NùrD÷cøéDÕ øÅ÷Ü÷C
üO÷j@÷s÷º üØùE÷Ü , ùç@ùÇ÷Ö÷± øn@ùïD÷r ÷døÇ÷r üR÷cøÇ÷z üØùF÷º
(ØCnM¨ äCÜm).........................ùçùÇ÷Ö÷± ønùïD÷r ÷j÷s÷º
Aw-walu mayuhasibu ‘alaihil’abdu yaumal qiyaamatish-shalatu, fainshaluhat shaluha saa iru ‘amalihi, wain fasadat fasada saa iru ‘amalihi ( HR.Thabrani)

Artinya : ‘Mal yang paling awal di hisab dari seseorang hamba adalah shalat. Bila baik shalatnya, maka baiklah seluruh amalannya. Tapi bila buruk shalatnya maka buruk pulalah semua amalannya”, (HR. Thabrani)

Sedemikian pentingnya ini sehingga Allah mewajibkannya dalam setiap keadaan, baik sedang lapang atau sempit, baik sedang damai atau perang, sedang di rumah , di mesjid ataupun sedang bepergian. Artinya, penyusun belum pernah menemukan dalil yang memberi excuse (rukhsah) bagi orang normal lagi adar untuk meningkatkan shalat : Firman Allah menyatakan :
×êb ûnÆC Û|Öb ûnÆCÓC ×sL
÷ÓCønøÂükD÷º ü×øQüÚùÕ÷C C÷kùF÷º DúÙD÷MüÂømüÜ÷C úÌ÷Xùn÷º ü×øQü»ùf üØùF÷º
(239:2 :½).... ÷ØüÝøÇ÷Öü²÷P üÝøÙüÝøÃ÷P ü×÷ÆD÷Õ ü×øÃüê÷Ç÷± D÷Ö÷Â
Fain khiftum farijala au rukbanan faidza amintum fadzkurullaaha kamaa ‘alaikum maalam takuunuu ta’maluuna (QS, Al_Baqarah : 239)

Artinya : Jika dalam keadaan takut (bahaya) maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan, kemudian apabila telah aman maka ingatlah Allah (shalatlah) sebagaimana Allah telah mengajarkan kamu apa yang kamu ketahui”, (QS, Al_Baqarah : 239)

Allah mengancam pedas, bahkan mengancam mereka yang melalaikan shalat.
×êb ûnÆC Û|Öb ûnÆCÓC ×sL
üÝø²÷Mû÷PC÷Ü ùõC÷Ý÷Ç÷¡ÆC üÝø±D÷¤÷C þÀüÇ÷f ü×ùåùjü²÷L üÛùÕ ÷À÷Ç÷f÷Ü
(59 :19 :½)...........Dúû÷ê÷µ ÷ØüÝø¿üÇ÷é ÷¹üÝ÷s÷º ùOC÷Ý÷æû÷wÆC
Wakhalaqa min ba’dihim khalqun adha’uush-shalawati wattaba’uusy-syahawati fasufa yalquuna ghayyaan (QS. Maryam : 59)

Artinya : Maka datanglah sesudah mereka (generasi) pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan”’(QS. Maryam : 59)

Tidak ada ikhtilaf (perbedaan) pendapat antara ulama dan sudah menjadi konsesnsus (ijma), bahwa yang meninggalkan shalat karena menentang dan mengingkari, maka itu adalah kekafiran dan tidak ada lagi baginya ikatan dengan islam.

Sedangkan mereka yang meninggalkannya dengan alasan malas sibuk dan seribu satu alasan lainnya yang tidak dibenarkan syara’, tapi masih mengimani bahwa shalat adalat kewajiban syari’ah, maka beberapa hadits Rtasulullah menghukumnya sebagai (kafir) dan tidak terlindungi harta dan darahnya oleh islam.
ùnü»øÃüÆC ÷Û@üê÷L÷Ü ùÈøX ûnÆC ÷Ûüê÷L 
(îDsÚÆCûËCÛÚsÆCKDczEÜjÖbEäCÜm) ùõ÷Ìû÷¡ÆC øÁün÷P
Bainar-rajuli wabainalkufri tarkush-shalaati (HR. Ahmad Muslim, dan Ashabus Sinan kecuali Nasai)
Artinya : Batas antara seseorang dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat”.(HR. Ahmad Muslim, dan Ashab us Sunan kecuali Nasai)
×@øæ÷Úüê÷L÷ÜD÷Ú÷Úüê÷L èùlû÷ÆCøjüæ÷²üÆ÷C . ×êbû nÆCÛ|ÖbûnÆCÓC ×sL
(ÛÚsÆCKDczEÜjÖbEäCÜm)÷n÷»Â D÷æ÷Â÷n÷P üÛ÷Ö÷º,øõ÷Ì÷û¡ÆC
Al’ahdulladzii bainanaa wabainahumush-shalaatu, faman tarakahaa faqad kafara”. (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan)

Artinya : “Janji yang mengikat kami (Rasulullah) dengan mereka (muslimin) adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkan shalat, kafirlah dia”. ”. (HR. Ahmad dan Ashabus Sinan)
×êb ûnÆC Û|Öb ûnÆCÓC ×sL
û÷Û@ùæüê÷Ç÷±  , þö÷T÷Ì÷T  ÷Û@üéùlû÷ÆC ø j@ù±C÷Ý÷¾÷Ü  ùÔ÷Ìür ù~ËüC è÷n@ø±
D÷æ@ùL ÷Ýøæ÷º û÷ÛøæüÚùÕ úõ÷j@ùbC÷Ü ÷Á÷n÷P üÛ÷Õ , ùÔ÷Ìür ù~ËüC øqD÷r÷C
øõ÷Ìû÷¡ÆC÷Ü , ÓC ûËC ç|ÆCË üØ÷C øõ÷iD÷æ÷v , ùÔ û÷jÆC øÅÌ÷bþnùºD÷Â
(ÛsbôD»rHLëDzé ÝLCäCÜm) ÷ØD÷¥÷Õ÷møÔüÝ÷z÷Üøö÷LüÝøQüÃ÷ÖüÆC
‘ural islami waqawa’idul-ladziina tsalatsatun, ‘alaihinna asaasul islami, man taraka wahidatan minhunna fahuwa bihaa kaa firun halaaluddami, syahadatu anlaailaha illallahu, wash-shalatul maktuubatu washaumu ramadhaana( HR. Abu Ya’la dengan sanad Hasan).

Artinya : Buhul tali islam dan kaidah-kaidah agama ini ada tiga di atas tiga inilah islam ditegakkan. Barangsiapa meninggalkan shalat satu dari padanya, maka ia adalah kafir dan halal darahnya. Ketiga asas itu adalah syahadat (bersaksi) tiada tuhan selain Allah, mendirikan shalat fardhu dan puasa Ramadhan”. ( HR. Abu Ya’la dengan sanad Hasan).
     ×êb ûnÆC Û|Öb ûnÆCÓC ×sL
÷ç|Æù Gû÷ËüØ÷ EüÜøj÷æüw÷é ëû÷Q÷b ÷qDû÷ÚÆC øÈùPD÷¾÷ E üØ÷ E øOünùÕøC
øõ÷Ì÷û¡ÆC üÝøÖüêù¿øé÷Ü ùÓC øÅüÝør û÷mC÷jû÷Ö÷cøÕ û÷Ø÷C÷Ü øÓC û÷ËùC
÷ôD÷ÕùiëùÚùÕ CüÝøÖ÷¡÷± ÷ÄùÆ|k üÝøÇ÷²÷ºC÷kùD÷º,÷õD÷ û÷p@ÆCüÝøP üãøé÷Ü
ë÷Ç÷± ü×øæøLD÷sùb÷Ü,ùÔ÷ÌürùËüC ûùÀ÷cùL û÷ËùC ü×øæ÷Æ÷ÝüÕ÷C÷Ü ü×øå
(×ÇsÕÜmDgMÆCäCÜm)......................û÷Å÷o÷Ü û÷p÷±ùÓC
Umirtu an aqqtilun-nasi hatta yasyhaduu anlaa ilaha illallahu wa anna muhammadar-rasuulullahi wayuqaamuush-shalatu wayu’tuz-zakaatu, faidzza fa’aluu dzalika ‘ashamuu minni dimaa-ahum wa amwalahum illa bihaqqil islami, wahisaabuhum ‘alaallahi ‘azza wajalla (HR. Bukhari dan Muslim)

(Berkata Ibnu Umar) : “ Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasulnya, mendirikan shalat dan membayar zakat, jika mereka penuhi semuanya berarti mereka telah menjaga darah dan hartanya dariku, kecuali berdasarkan hak dari islam. Sedangkan perhitungannya terserah kepada Allah Azza wajalla”. (HR. Bukhari dan Muslim)

semua yang penyusun bertalian dengan nilai-nilai shalat yang patut menjadi perhatian kita bersama untuk menjaganya dengan sungguh-sungguh. Karena hanya shalat yang bernilai sajalah yang mampu mencegah pelakunya dari fahsya dan munkar. (QS. Al-Ankabut : 45)

Dari segi amaliah (pelaksanaan) shalat, maka Rasul menghendaki umatnya memperaktekkan shalat itu sesuai sunnahnya. Sabdanya :
 “Shallu kamaa ra’aitumunii ushalli”, dimaksudkan agar kaifiat (tata cara) shalat harus mengacu ketat pada sunnahnya. Dengan demikian, shalat akan memberi dampak positif secara nilai, sekaligus mencegah dari kesalahan kaifiat. Seorang shahabat pernah di suruh Rasulullah SAW untuk mengulangi shalatnya sampai tiga kali, dengan sabdanya :

  ûùÈ÷¡øé ü×÷Æ ÷Äû÷ÙùD÷º,ûùÈ÷¡÷º ü³ùXýmùC
irji’ fashalli, fainnaka lam yushalli
Artinya : “Kembali dan ulang shalatmu, karena sesungguhnya engkau belum shalat”,

Maksud Rasulullah, orang itu tidak sah shalatnya karena kaifiatnya menyalahi cintoh Rasulullah. Kemudian Rasulullah mengajarkannya tata cara shalat dan mengoreksi kesalahan-kesalahannya. Makalah yang sangat sederhana ini berupaya keras untuk menyajikan dalil-dalil shahih dari sunnah sebagai acuan atas setiap gerak dan bacaan shalat kita agar sesuai dengan shalat Rasulullah.
Kekhawatiran Imam Ahmad bin Hambali, dahulu, tentang hadits Nabi SAW : ù
ùqDû÷ÚÆC ë÷Ç÷±ëùPF÷é . ×êbû nÆCÛ|ÖbûnÆCÓC ×sL
 (jÖbE äCÜm) ……ØüÝûøÇ÷¡øé÷Ë÷Ü ØüÝûøÇ÷¡øé þØD÷Õ÷o
Ya’tii ‘alaan-naasi zamaanun yushalluuna walaa yushalluuna”,( HR. Ahmad)
Artinya : “Akan datang suatu masa bagi manusia di mana mereka shalat tapi sesungguhnya mereka tidak shalat”,( HR. Ahmad)

Sampai-sampai beliau berkata : Hadits itu telah berlaku di zamanku ini “ ,
Ini diungkapkan beliau seusai mengadakan survai terhadap 100 masjid dan beliau simpulkan tidak satupun dari mesjid-mesjid itu memperaktekan shalat sesuai sunnah. Masa itu adalah 200 tahun pasca wafatnya Rasulullah SAW.

Konon begitu keadaan di zaman imam Ahmad, lantas bagaimana kini setelah (15) abad di tinggal Rasulullah?

Sebagai mana imam Ahmad. Penyusun punya kekhawatiran yang sama, di samping juga concem terciptanya wawasan yang benar ke arah tata cara shalat, khususnya untuk jama’ah Al-Istiqaqmah .Taman Bima Permai Cirebon, dan kaum muslimin umumnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar